Cekidot merupakan plesetan dari check this out atau check it out yang dapat diartikan bebas, coba lihat, lihat ini,dll

Menyalahkan diri sendiri atau mengevaluasi diri ???


Ada ungkapan yang cukup menarik,

“Orang akan mencintai dan menyayangi kamu selagi kamu mencintai dan menyayangi diri kamu sendiri”

Ada lagi, bagi seorang Muslim, “Tidak beriman salah seorang di antara kamu sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”  (HR. Muttafaqun ‘alaihi)

Ada lagi,  “Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang bisa memberikan manfaat bagi manusia”

Pernahkah dalam hidup kita mendapati kegagalan ?, pernahkah dalam hidup kita merasa sebagai orang yang sangat useless, tidak berguna sama sekali ? pernahkah dalam hidup kita merasa apa yang dilakukan itu selalu serba salah? seakan-akan tidak pernah ada yang benar, selalu salah, dan dengan pandangan negatif, kita menganggap bahwa orang lain selalu beropini bahwa kita itu orang yang gagal ?

Ketika kita sampai pada level pemikiran seperti itu, otomatis kita sudah memasuki tahapan yang merusak, dalam artian merusak kepercayaan diri, merusak kepercayaan orang dan merusak esensi tujuan hidup kita sendiri.

ketika fase tersebut masuk kedalam hidup kita, maka kita tidak akan melihat lagi adanya kesuksesan, yang ada hanya kegagalan- dan kegagalan yang datang silih berganti. Masalahnya apa adalah ketika kita memasuki fase ini pula pandangan dan perspektif terhadap sesuatu hanya akan keluar dari perspektif yang bersifat subjectif dan dalam point of view dari diri sendiri. padahal ada kalanya , kita menganggap bahwa yang kita lakukan gagal, namun dari sisi perpspektif orang lain, ditinjau dari segi kemanfaatan dari apa yang telah kita lakukan sebenarnya bisa dikatakan sukses. Namun karena kita seakan-akan sudah menutup diri dari luar, maka yang kita pikirkan dan apa yang merasuki pikiran haya pikiran tentang kegagalan dan kegagalan. dalam fase ini biasanya kita akan menyalahkan diri sendiri karena ketidak mampuan untuk mencapai apa yang kita ukur sebagai tanda kesuksesan.

Namun yang paling parah, jika kita mulai mencar-cari objek lain untuk menyalahkan faktor luar sebagai penyebab kegagalan. untuk kasus yang pertama, kita masih memiliki kesadaran untuk introspeksi diri demi perbaikan, namun untuk kasus yang kedua, bisa dikatakan kita akan selalu menyalahkan orang lain tanpa mau mengintrospeksi diri sendiri.

Kadang kita akan menyalahkan hal-hal lain jika kegagalan telah kita lewati, untuk mencari justifikasi bahwa kegagalan tersebut bukan bersumber dari kita sendiri, misalnya :
orang lain, properti, alat, alam, gurunya, temannya, musuhnya, komputernya, hpnya, orang bahkan tuanya.

Tapi siapa sangka, kalo kita introspeksi diri lebih lanjut, yang menyebabkan kegagalan itu adalah diri sendiri, misalnya karena
– malas
– kurang kerja keras
– kurang motivasi
– suka bermain
– lepas tanggung jawab

Jika hal ini tidak diatasi dengan segera, akan membuat tatanan hidup sosial kita akan kacau dan terganggu.

jadi apa sebenarnya yang harus kita lakukan ?

Perhatikanlah tindakan kita dan bukan orang lain. Awasilah diri kita dan bukan salahkan diri sendiri. Perhatian kita seharusnya fokus pada tindakan atau perbuatan dan bukan pada oranglain dan diri kita. Kita tidak bodoh, hanya aksi yang kita ambillah yang keliru dan itu bisa diperbaiki kan. Mulailah dengan meminta maaf.

Dan mulailah belajar untuk bisa menerima perbuatan-perbuatan dan aksi-aksi yang mendorong terhadap kegagalan, sebagai suata tahapan untuk memperkaya khazanah  diri dan sebagai tahapan untuk mencapai tingkatan yang lebih baik.

Ketika kita mengalami kegagalan, wajar saja jika kita mendapat rasa kasihan dari orang lain, tapi bukan berarti kita mengasihani diri kita sendiri. Dan bukan pula sebuah solusi jika kita terusa saja memaafkan kesalahan kita sendiri dengan melakukan justifikasi-justifikasi, tapi sadarilah kesalahan tersebut dan perbaikilah.  Jika sudah berusaha keras namun kita tidak bisa mengubahnya setidaknya ubahlah fokus pikiran kita sehingga kita tidak lagi fokus disana, dan ubahlah semua pandangan kita menjadi pandangan yang positif dan konstruktif, tidak sebaliknya, destruktif.

Ingatlah bahwa kita hidup itu sebagai homo socius, yang perlu berinteraksi secara sosial. Ingatalah apayang kita lakukan mau tidak mau, langsung ataupun tidak langsung akan mempengaruhi tatanan kehidupan sosial kita. kuncinya adalah pahami diri sendiri, dan pahamilah fungsi dan posisi kita dalam lingkungan sosial kita, perkuatlah unsur Emotional Intelligence kita, self management, self skill, social skills dan social awareness kita …

Mulailah evaluasi diri, bukan menyalahkan diri …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s